Masih
dalam diskusi grup Facebook mata kuliah Difusi Inovasi, kali ini kami,
Mahasiswa Jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan Universitas Negeri Jakarta
2010, kembali menanggapi pertanyaan yang diajukan oleh Ibu Retno selaku asisten
dosen. Pertanyaan diskusi yang dilempar ke khalayak grup pada hari Kamis siang
tersebut berbunyi sebagai berikut, “Selamat
siang... bagaimana hasil diskusi senin lalu. Kalau dilihat dari komentar di FB
sepertinya sebagian besar sudah paham ya..
Coba sekarang data mengenai "sebagai lulusan tp nanti, kalian termasuk pada kategori adopter yg mana", beserta alasannya dikelompokkan dan dibuat chart-nya kemudian dipost juga di blog kalian,, sekalian blognya di-update lah! jgn lupa berikan analisa kalian ya...”.
Coba sekarang data mengenai "sebagai lulusan tp nanti, kalian termasuk pada kategori adopter yg mana", beserta alasannya dikelompokkan dan dibuat chart-nya kemudian dipost juga di blog kalian,, sekalian blognya di-update lah! jgn lupa berikan analisa kalian ya...”.
Untuk memperjelas khazanah
pemahaman pembaca yang budiman sekalian, ada baiknya penulis uraikan terlebih
dahulu apa itu adopter dan apa saja
kategorisasinya.
Menurut Rogers
(1983), adopter dapat dibagi menjadi
5 tipe, yaitu:
- Innovator
Senang
mencoba gagasan baru, berorientasi keluar sistem sehingga memiliki sudut
pandang yang kaya dalam melihat sebuah permasalahan hingga ditemukannya sebuah
solusi yang menjawab permasalahan tersebut.
- Early Adopter (Pelopor)
Berorientasi
ke dalam sistem. Meneliti atau menganalisa terlebih dahulu sebelum mengambil
keputusan mengadopsi inovasi.
- Early Majority (Pengikut Dini)
Menunggu
sebagian besar anggota sistem sosial untuk mengadopsi suatu inovasi.
- Late Majority (Pengikut Akhir)
Keterlambatan
pengadopsian inovasi yang kemungkinan dipengaruhi oleh faktor kepentingan
ekonomi, tekanan sosial, kondisi geografis dan sebagainya.
- Laggards (Lamban Mengadopsi)
Tidak
memiliki wawasan yang cukup, berpandangan sempit, dan cenderung apatis terhadap
sesuatu yang baru. Mengadopsi di saat akhir atau bahkan tidak mengadopsinya
sama sekali.
Seperti
tugas sebelumnya, kami masih melanjutkan survey terkait substansi mata kuliah
ini dengan lingkup kecil. Yaitu respondennya hanya teman-teman sekelas. Berikut
merupakan data dari hasil survey:
![]() |
| Tabel Ragam Opini |
![]() |
| Grafik Batang Kategorisasi Adopter |
![]() |
| Grafik Pie Kategorisasi Adopter |
Dari
data yang disajikan di atas, dapat kita lihat bahwa mayoritas mahasiswa menjawab
“innovator” dengan alasan yang sama, yaitu posisi seorang Teknolog Pendidikan
dalam kategorisasi adopter idealnya
adalah sebagai innovator. Dengan
dasar pemikiran bahwa seorang Teknolog Pendidikan memiliki tugas untuk
memecahkan permasalahan dalam pembelajaran maka dari itu Teknolog Pendidikan
diharapkan dapat menggagas berbagai ide kreatif, inovatif, dan solutif terkait
pemecahan masalah belajar.
Terlepas dari jawaban mayoritas
tersebut, jawaban mayoritas di posisi kedua yaitu innovator golongan C dengan kriteria “Berperan sebagai agent of change yang kreatif”. Terdapat
penambahan peran Teknolog Pendidikan sebagai agent of change atau agen perubahan yang diharap dapat membawa
kebermanfaatan dalam proses pembelajaran dan mewujudkan lingkungan belajar yang
kondusif.
Namun ada pula seorang mahasiswa
yang berpandangan bahwa seorang Teknolog Pendidikan mungkin dapat dikategorikan
sebagai Early Adopter. Ia berpendapat
seperti itu berdasarkan pengalaman pribadinya. Menurut penulis, hal tersebut
bisa saja merupakan representasi kenyataan di lapangan terkait innovativeness (kemampuan/kecepatan
seseorang dalam menerima dan mengadopsi sebuah inovasi). Memang pada dasarnya tingkat innovativeness
tiap individu berbeda-beda. Jika dikaitkan dengan pertanyaan Bu Retno di kelas
beberapa waktu lalu, “Mengapa masih banyak yang telat komentar postingan baru
di grup?”. Mayoritas mahasiswa menjawab pertanyaan tersebut dengan jawaban yang
memiliki arti tersirat: menunggu yang lain untuk mendapat inspirasi jawaban.
Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa TP di kelas tidak berani
memulai sesuatu yang baru. Cenderung menunggu yang lain. Dalam pengadopsian
inovasi, hal ini tercermin dalam tindakan Early
Adopter, golongan pengadopsi yang menunggu anggota sistem social lain untuk
mengadopsinya terlebih dahulu sehingga ia tahu kelebihan dan kekurangan inovasi
tersebut dan apabila dirasa cocok dan sesuai dengan kebutuhan dan kesukaannya
maka baru ia adopsi.
Menurut saya, jika paradigma ini
mengalami keberlanjutan maka tak menutup kemungkinan dalam praktiknya beberapa
tahun ke depan lulusan TP adalah merupakan Early
Adopter bukan sebagai Innovator yang
sebagian besar sudah dikatakan mahasiswa TP yang menjadi responden survey.
Mungkin benar akan tetap menjadi “kondisi idealnya”.




Tidak ada komentar:
Posting Komentar