Apa itu SegentongAsa?

Foto saya
Segentong penuh asa siap mengiringi perjalanan masa depanmu :)

Minggu, 01 April 2012

MAHASISWA TEKNOLOGI PENDIDIKAN DALAM KATEGORISASI ADOPTER


Masih dalam diskusi grup Facebook mata kuliah Difusi Inovasi, kali ini kami, Mahasiswa Jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan Universitas Negeri Jakarta 2010, kembali menanggapi pertanyaan yang diajukan oleh Ibu Retno selaku asisten dosen. Pertanyaan diskusi yang dilempar ke khalayak grup pada hari Kamis siang tersebut berbunyi sebagai berikut,  Selamat siang... bagaimana hasil diskusi senin lalu. Kalau dilihat dari komentar di FB sepertinya sebagian besar sudah paham ya..
Coba sekarang data mengenai "sebagai lulusan tp nanti, kalian termasuk pada kategori adopter yg mana", beserta alasannya dikelompokkan dan dibuat chart-nya kemudian dipost juga di blog kalian,, sekalian blognya di-update lah! jgn lupa berikan analisa kalian ya...”.
                Untuk memperjelas khazanah pemahaman pembaca yang budiman sekalian, ada baiknya penulis uraikan terlebih dahulu apa itu adopter dan apa saja kategorisasinya.
Menurut Rogers (1983), adopter dapat dibagi menjadi 5 tipe, yaitu:
  1. Innovator
Senang mencoba gagasan baru, berorientasi keluar sistem sehingga memiliki sudut pandang yang kaya dalam melihat sebuah permasalahan hingga ditemukannya sebuah solusi yang menjawab permasalahan tersebut.
  1. Early Adopter (Pelopor)
Berorientasi ke dalam sistem. Meneliti atau menganalisa terlebih dahulu sebelum mengambil keputusan mengadopsi inovasi.
  1. Early Majority (Pengikut Dini)
Menunggu sebagian besar anggota sistem sosial untuk mengadopsi suatu inovasi.
  1. Late Majority (Pengikut Akhir)
Keterlambatan pengadopsian inovasi yang kemungkinan dipengaruhi oleh faktor kepentingan ekonomi, tekanan sosial, kondisi geografis dan sebagainya.
  1. Laggards (Lamban Mengadopsi)
Tidak memiliki wawasan yang cukup, berpandangan sempit, dan cenderung apatis terhadap sesuatu yang baru. Mengadopsi di saat akhir atau bahkan tidak mengadopsinya sama sekali.

Seperti tugas sebelumnya, kami masih melanjutkan survey terkait substansi mata kuliah ini dengan lingkup kecil. Yaitu respondennya hanya teman-teman sekelas. Berikut merupakan data dari hasil survey: 

Tabel Ragam Opini

Grafik Batang Kategorisasi Adopter

Grafik Pie Kategorisasi Adopter


 
Dari data yang disajikan di atas, dapat kita lihat bahwa mayoritas mahasiswa menjawab “innovator” dengan alasan yang sama, yaitu posisi seorang Teknolog Pendidikan dalam kategorisasi adopter  idealnya adalah sebagai innovator. Dengan dasar pemikiran bahwa seorang Teknolog Pendidikan memiliki tugas untuk memecahkan permasalahan dalam pembelajaran maka dari itu Teknolog Pendidikan diharapkan dapat menggagas berbagai ide kreatif, inovatif, dan solutif terkait pemecahan masalah belajar.
                Terlepas dari jawaban mayoritas tersebut, jawaban mayoritas di posisi kedua yaitu innovator golongan C dengan kriteria “Berperan sebagai agent of change yang kreatif”. Terdapat penambahan peran Teknolog Pendidikan sebagai agent of change atau agen perubahan yang diharap dapat membawa kebermanfaatan dalam proses pembelajaran dan mewujudkan lingkungan belajar yang kondusif.
                Namun ada pula seorang mahasiswa yang berpandangan bahwa seorang Teknolog Pendidikan mungkin dapat dikategorikan sebagai Early Adopter. Ia berpendapat seperti itu berdasarkan pengalaman pribadinya. Menurut penulis, hal tersebut bisa saja merupakan representasi kenyataan di lapangan terkait innovativeness (kemampuan/kecepatan seseorang dalam menerima dan mengadopsi sebuah inovasi). Memang pada dasarnya tingkat innovativeness tiap individu berbeda-beda. Jika dikaitkan dengan pertanyaan Bu Retno di kelas beberapa waktu lalu, “Mengapa masih banyak yang telat komentar postingan baru di grup?”. Mayoritas mahasiswa menjawab pertanyaan tersebut dengan jawaban yang memiliki arti tersirat: menunggu yang lain untuk mendapat inspirasi jawaban. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa TP di kelas tidak berani memulai sesuatu yang baru. Cenderung menunggu yang lain. Dalam pengadopsian inovasi, hal ini tercermin dalam tindakan Early Adopter, golongan pengadopsi yang menunggu anggota sistem social lain untuk mengadopsinya terlebih dahulu sehingga ia tahu kelebihan dan kekurangan inovasi tersebut dan apabila dirasa cocok dan sesuai dengan kebutuhan dan kesukaannya maka baru ia adopsi.
                Menurut saya, jika paradigma ini mengalami keberlanjutan maka tak menutup kemungkinan dalam praktiknya beberapa tahun ke depan lulusan TP adalah merupakan Early Adopter bukan sebagai Innovator yang sebagian besar sudah dikatakan mahasiswa TP yang menjadi responden survey. Mungkin benar akan tetap menjadi “kondisi idealnya”.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar