Apa itu SegentongAsa?

Foto saya
Segentong penuh asa siap mengiringi perjalanan masa depanmu :)

Minggu, 22 April 2012

Analyze Needs and Problems


Beberapa waktu yang lalu, saya melakukan observasi ke SMAN 14 Jakarta. Saya mewawancarai salah seorang siswa kelas XI IPA tentang kesulitan-kesulitan yang ia rasakan saat ini selama mempelajari mata pelajaran bidang Ilmu Pengetahuan Alam di jenjang kelas XI. Dari ketiga mata pelajaran bidang IPA, siswa tersebut mengaku kesulitan dalam pelajaran Fisika. Seperti siswa-siswa SMA kebanyakan, mata pelajaran Fisika memang sering kali menjadi ‘momok’ menakutkan. Lalu sebenarnya aspek apa yang menyulitkan para siswa? Di bawah ini akan saya uraikan identifikasi masalah terkait kesulitan-kesulitan yang dirasakan oleh siswa.

  • Siswa merasa dalam pelajaran Fisika ini terlalu banyak rumus-rumus yang harus dihapalkan dalam satu bahasan. Misalkan dalam Bab Mekanika Newton terdapat beberapa rumus bidang miring yang berbeda. Hal ini menyebabkan beban hapalan siswa menjadi lebih berat dan dalam praktik pengerjaan soalnya pun siswa harus benar-benar memahami maksud soal tersebut sehingga dapat menentukan penggunaan rumus yang tepat.
  • Siswa merasa tidak puas dengan pemberian rumus-rumus cepat yang tanpa dijelaskan terlebih dahulu asal penurunan rumus tersebut. Karena siswa merasa terbebani dengan hapalan rumus. Sedangkan jika melihat dari sudut pandang guru, durasi penyampaian materi tiap pelajaran Fisika, tidak memungkinkan untuk menjelaskan langkah-langkah penurunan rumusnya. Hal itu yang membuat tabrakan persepsi antara keinginan siswa dan keinginan guru..
  • Siswa merasa kurangnya praktek langsung mengamati gejala-gejala Fisika di lingkungan sekitar sehingga menimbulkan kurang paham terhadap materi yang sedang dibahas. Contoh materi Fluida hanya berdasarkan teori saja padahal zat cair (fluida) dan dinamikanya adalah hal yang sangat dekat dengan kehidupan kita sehari-hari. 
  •  Merasa terbebaninya siswa dengan tugas sekolah yang terlalu banyak sehingga waktu untuk belajar dan memahami materi mata pelajaran yang masih dirasa sulit menjadi lebih sedikit.

Analisis Masalah
Dari identifikasi masalah di atas, masalah pada poin ketiga merupakan masalah sarana dan prasarana. Di samping itu dapat kita analisa bahwa masalah pada poin pertama dan masalah pada poin kedua relative terkait. Poin pertama menyatakan: sulit menghapal rumus. Poin kedua menyatakan: kurang puas dengan rumus instan, lebih senang dengan penjelasan bagaimana rumus itu diturunkan. Jika ditelaah, maka masalah pada poin pertama, dapat diselesaikan dengan bantuan solusi dari penyelesaian masalah pada poin kedua. Karena menurut siswa, jika paham asal penurunan rumusnya, maka tidak perlu terlalu banyak menghapal, cukup paham satuan-satuannya sehingga dapat menurunkan rumus tersebut. Sedangkan, guru terbatasi dengan durasi mengajar. Durasi mengajar yang padat dan sudah ditetapkan ini, tidak memungkinkan untuk menjelaskan asal penurunan tiap rumus.

Analisis Kebutuhan
Siswa membutuhkan penjelasan tentang asal penurunan rumus. Maka solusi yang diharapkan adalah sebuah bentuk yang tidak akan mengganggu durasi mengajar guru tetapi kebutuhan siswa seperti yang tersebut dalam analisa  masalah di atas dapat terpenuhi.

Minggu, 01 April 2012

MAHASISWA TEKNOLOGI PENDIDIKAN DALAM KATEGORISASI ADOPTER


Masih dalam diskusi grup Facebook mata kuliah Difusi Inovasi, kali ini kami, Mahasiswa Jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan Universitas Negeri Jakarta 2010, kembali menanggapi pertanyaan yang diajukan oleh Ibu Retno selaku asisten dosen. Pertanyaan diskusi yang dilempar ke khalayak grup pada hari Kamis siang tersebut berbunyi sebagai berikut,  Selamat siang... bagaimana hasil diskusi senin lalu. Kalau dilihat dari komentar di FB sepertinya sebagian besar sudah paham ya..
Coba sekarang data mengenai "sebagai lulusan tp nanti, kalian termasuk pada kategori adopter yg mana", beserta alasannya dikelompokkan dan dibuat chart-nya kemudian dipost juga di blog kalian,, sekalian blognya di-update lah! jgn lupa berikan analisa kalian ya...”.
                Untuk memperjelas khazanah pemahaman pembaca yang budiman sekalian, ada baiknya penulis uraikan terlebih dahulu apa itu adopter dan apa saja kategorisasinya.
Menurut Rogers (1983), adopter dapat dibagi menjadi 5 tipe, yaitu:
  1. Innovator
Senang mencoba gagasan baru, berorientasi keluar sistem sehingga memiliki sudut pandang yang kaya dalam melihat sebuah permasalahan hingga ditemukannya sebuah solusi yang menjawab permasalahan tersebut.
  1. Early Adopter (Pelopor)
Berorientasi ke dalam sistem. Meneliti atau menganalisa terlebih dahulu sebelum mengambil keputusan mengadopsi inovasi.
  1. Early Majority (Pengikut Dini)
Menunggu sebagian besar anggota sistem sosial untuk mengadopsi suatu inovasi.
  1. Late Majority (Pengikut Akhir)
Keterlambatan pengadopsian inovasi yang kemungkinan dipengaruhi oleh faktor kepentingan ekonomi, tekanan sosial, kondisi geografis dan sebagainya.
  1. Laggards (Lamban Mengadopsi)
Tidak memiliki wawasan yang cukup, berpandangan sempit, dan cenderung apatis terhadap sesuatu yang baru. Mengadopsi di saat akhir atau bahkan tidak mengadopsinya sama sekali.

Seperti tugas sebelumnya, kami masih melanjutkan survey terkait substansi mata kuliah ini dengan lingkup kecil. Yaitu respondennya hanya teman-teman sekelas. Berikut merupakan data dari hasil survey: 

Tabel Ragam Opini

Grafik Batang Kategorisasi Adopter

Grafik Pie Kategorisasi Adopter


 
Dari data yang disajikan di atas, dapat kita lihat bahwa mayoritas mahasiswa menjawab “innovator” dengan alasan yang sama, yaitu posisi seorang Teknolog Pendidikan dalam kategorisasi adopter  idealnya adalah sebagai innovator. Dengan dasar pemikiran bahwa seorang Teknolog Pendidikan memiliki tugas untuk memecahkan permasalahan dalam pembelajaran maka dari itu Teknolog Pendidikan diharapkan dapat menggagas berbagai ide kreatif, inovatif, dan solutif terkait pemecahan masalah belajar.
                Terlepas dari jawaban mayoritas tersebut, jawaban mayoritas di posisi kedua yaitu innovator golongan C dengan kriteria “Berperan sebagai agent of change yang kreatif”. Terdapat penambahan peran Teknolog Pendidikan sebagai agent of change atau agen perubahan yang diharap dapat membawa kebermanfaatan dalam proses pembelajaran dan mewujudkan lingkungan belajar yang kondusif.
                Namun ada pula seorang mahasiswa yang berpandangan bahwa seorang Teknolog Pendidikan mungkin dapat dikategorikan sebagai Early Adopter. Ia berpendapat seperti itu berdasarkan pengalaman pribadinya. Menurut penulis, hal tersebut bisa saja merupakan representasi kenyataan di lapangan terkait innovativeness (kemampuan/kecepatan seseorang dalam menerima dan mengadopsi sebuah inovasi). Memang pada dasarnya tingkat innovativeness tiap individu berbeda-beda. Jika dikaitkan dengan pertanyaan Bu Retno di kelas beberapa waktu lalu, “Mengapa masih banyak yang telat komentar postingan baru di grup?”. Mayoritas mahasiswa menjawab pertanyaan tersebut dengan jawaban yang memiliki arti tersirat: menunggu yang lain untuk mendapat inspirasi jawaban. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa TP di kelas tidak berani memulai sesuatu yang baru. Cenderung menunggu yang lain. Dalam pengadopsian inovasi, hal ini tercermin dalam tindakan Early Adopter, golongan pengadopsi yang menunggu anggota sistem social lain untuk mengadopsinya terlebih dahulu sehingga ia tahu kelebihan dan kekurangan inovasi tersebut dan apabila dirasa cocok dan sesuai dengan kebutuhan dan kesukaannya maka baru ia adopsi.
                Menurut saya, jika paradigma ini mengalami keberlanjutan maka tak menutup kemungkinan dalam praktiknya beberapa tahun ke depan lulusan TP adalah merupakan Early Adopter bukan sebagai Innovator yang sebagian besar sudah dikatakan mahasiswa TP yang menjadi responden survey. Mungkin benar akan tetap menjadi “kondisi idealnya”.