Beberapa waktu yang lalu, saya melakukan observasi ke SMAN 14 Jakarta.
Saya mewawancarai salah seorang siswa kelas XI IPA tentang kesulitan-kesulitan
yang ia rasakan saat ini selama mempelajari mata pelajaran bidang Ilmu Pengetahuan
Alam di jenjang kelas XI. Dari ketiga mata pelajaran bidang IPA, siswa tersebut
mengaku kesulitan dalam pelajaran Fisika. Seperti siswa-siswa SMA kebanyakan,
mata pelajaran Fisika memang sering kali menjadi ‘momok’ menakutkan. Lalu
sebenarnya aspek apa yang menyulitkan para siswa? Di bawah ini akan saya
uraikan identifikasi masalah terkait kesulitan-kesulitan yang dirasakan oleh
siswa.
- Siswa merasa dalam pelajaran Fisika ini terlalu banyak rumus-rumus yang harus dihapalkan dalam satu bahasan. Misalkan dalam Bab Mekanika Newton terdapat beberapa rumus bidang miring yang berbeda. Hal ini menyebabkan beban hapalan siswa menjadi lebih berat dan dalam praktik pengerjaan soalnya pun siswa harus benar-benar memahami maksud soal tersebut sehingga dapat menentukan penggunaan rumus yang tepat.
- Siswa merasa tidak puas dengan pemberian rumus-rumus cepat yang tanpa dijelaskan terlebih dahulu asal penurunan rumus tersebut. Karena siswa merasa terbebani dengan hapalan rumus. Sedangkan jika melihat dari sudut pandang guru, durasi penyampaian materi tiap pelajaran Fisika, tidak memungkinkan untuk menjelaskan langkah-langkah penurunan rumusnya. Hal itu yang membuat tabrakan persepsi antara keinginan siswa dan keinginan guru..
- Siswa merasa kurangnya praktek langsung mengamati gejala-gejala Fisika di lingkungan sekitar sehingga menimbulkan kurang paham terhadap materi yang sedang dibahas. Contoh materi Fluida hanya berdasarkan teori saja padahal zat cair (fluida) dan dinamikanya adalah hal yang sangat dekat dengan kehidupan kita sehari-hari.
- Merasa terbebaninya siswa dengan tugas sekolah yang terlalu banyak sehingga waktu untuk belajar dan memahami materi mata pelajaran yang masih dirasa sulit menjadi lebih sedikit.
Analisis Masalah
Dari identifikasi masalah
di atas, masalah pada poin ketiga merupakan masalah sarana dan prasarana. Di
samping itu dapat kita analisa bahwa masalah pada poin pertama dan masalah pada
poin kedua relative terkait. Poin pertama menyatakan: sulit menghapal rumus.
Poin kedua menyatakan: kurang puas dengan rumus instan, lebih senang dengan
penjelasan bagaimana rumus itu diturunkan. Jika ditelaah, maka masalah pada
poin pertama, dapat diselesaikan dengan bantuan solusi dari penyelesaian
masalah pada poin kedua. Karena menurut siswa, jika paham asal penurunan
rumusnya, maka tidak perlu terlalu banyak menghapal, cukup paham
satuan-satuannya sehingga dapat menurunkan rumus tersebut. Sedangkan, guru
terbatasi dengan durasi mengajar. Durasi mengajar yang padat dan sudah
ditetapkan ini, tidak memungkinkan untuk menjelaskan asal penurunan tiap rumus.
Analisis Kebutuhan
Siswa membutuhkan
penjelasan tentang asal penurunan rumus. Maka solusi yang diharapkan adalah
sebuah bentuk yang tidak akan mengganggu durasi mengajar guru tetapi kebutuhan
siswa seperti yang tersebut dalam analisa
masalah di atas dapat terpenuhi.



