BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pembelajaran di kelas secara
konservatif memang masih dilakukan hingga pada era modern seperti saat ini.
Namun tentunya perkembangan teknologi komunikasi dan informasi juga mengambil
peran dalam kegiatan pencerdasan manusia dalam bidang pendidikan. Sebut saja
berkembangnya media pembelajaran seperti CD pembelajaran interaktif yang
menarik siswa terutama pada jenjang Sekolah Dasar untuk mau belajar mengenai
materi yang diberikan karena CD pembelajaran interaktif cenderung menarik
dengan kombinasi warna dan gambar serta animasi. Selain itu terjadinya
kombinasi kegiatan seperti membaca, mendengarkan, serta melakukan langsung.
Interaksi diperlukan untuk menarik atensi pembelajar. Lalu, apakah hanya dengan
CD Interaktif kegiatan-kegiatan yang menarik minat belajar tersebut dapat
dilakukan?
Media jejaring social seperti Facebook
cukup mumpuni untuk melakukan kegiatan pembelajaran di luar kelas konservatif.
Seperti yang diterapkan oleh Jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan, Universitas
Negeri Jakarta pada mata kuliah Difusi Inovasi. Mata kuliah ini menerapkan
diskusi online via grup Facebook. Mahasiswa dan dosen yang mengampu mata kuliah
ini akan tergabung dalam sebuah grup. Dosen akan memberikan pertanyaan dan
mahasiswa mulai berdiskusi. Diskusi pun menajdi lebih hidup karena dilengkapi
dengan gambar, diagram, serta juga bisa berupa tautan referensi bacaan dari
artikel yang didapat dari internet. Sehingga mahasiswa lain pun menjadi lebih
kaya bahan bacannya.
Di sini, penulis akan mencoba
menganalisa atas survey yang dilakukan mengenai efektivitas pemanfaatan
Facebook dalam mata kuliah Difusi Inovasi.
B. Pertanyaan Survey
“Anda tentunya sudah tahu bener,
persamaan dan perbedaan inovasinya di Rogers dgn Reigeluth. Kalau belum tahu,
kebangeten deh! Itu ngeledek namanya. Rogers itu ... berteori tentang inovasi
dan difusinya secara umum. Teorinya bida dikembangkan di berbagai bidang.
Reigeluth itu kan ahlinya TP, dia berteori tentang inovasi dan difusinya di
bidang pendidikan/pembelajaran. Cermati deh persamaan dan perbedaannya, asyiiik
lho. Nah sekarang berikan tanggapan Anda, "Apakah Forum Group Discussion
IDP ini termasuk inovasi dalam mata kuliah ini?". Kalau Anda jawab
"YES", atau "NO" atau "YES & NO", berikan
alasan mengacu pada teori Rogers & Reigeluth. Biasanya mahasiswa/i kudu
pinter cari dan kasih alasan. OK? Met berdiskusi.”
Oleh Prof. DR. B. P. Sitepu, MA
C.
Tujuan dan
Manfaat Hasil Survey
·
Mengetahui
keaktifan mahasiswa dalam grup Facebook DIP
·
Menganalisa ragam
jawaban dalam diskusi grup Facebook DIP
·
Menganalisa
keefektifan grup Facebook DIP sebagai media pembelajaran
D.
Responden Survey
dan Teknik Survey
Responden dalam survey ini merupakana
mahasiswa jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan Reguler angkatan 2010 yang
mengambil mata kuliuah Difusi Inovasi Pendidikan.
Penulis menggunakan teknik survey
berupa pendataan mahasiswa yang tergabung dalam grup Facebook DIP, mengumpulkan
jawaban yang diberikan dalam pertanyaan yang diajukan dosen pengampu,
mengklasifikasikan jawaban, melakukan analisis serta menarik kesimpulan.
BAB II
HASIL SURVEY
Berikut
merupakan data yang sudah penulis kumpulkan yang disajikan berupa tabulasi.
Tabel
Data Keaktifan Mahasiswa
Tindakan
|
Jumlah Mahasiswa
|
Presentase
(%)
|
Menjawab
|
29
|
94
|
Tidak Menjawab
|
2
|
6
|
TOTAL
|
31
|
100
|
Tabel Ragam Jawaban
Indikator Jawaban
|
Jumlah Mahasiswa
|
Presentase
(%)
|
YES
|
12
|
39
|
NO
|
1
|
3
|
YES & NO
|
16
|
52
|
Belum Menjawab
|
2
|
7
|
TOTAL
|
31
|
100
|
Klasifikasi Jawaban Berdasarkan Alasan
Tabel Data Klasifikasi Jawaban
Kategori Jawaban
|
Kategori Alasan
|
Jumlah
|
Presentase
%
|
YES
|
Y1
|
6
|
19
|
Y2
|
1
|
3
|
|
Y3
|
1
|
3
|
|
Y4
|
2
|
6
|
|
Y5
|
1
|
3
|
|
Y6
|
1
|
3
|
|
NO
|
N
|
1
|
3
|
YES &NO
|
YN1
|
15
|
48
|
YN2
|
1
|
3
|
|
BELUM JAWAB
|
BJ
|
2
|
6
|
TOTAL
|
31
|
100
|
BAB III
PEMBAHASAN
Dari data-data yang sudah penulis
sajikan di atas, terlihat bahwa sebenarnya
keragaman jawaban membuat pengetahuan mahasiswa menjadi lebih kaya.
Walaupun tentunya ada jawaban yang mendominasi. Mahasiswa pun cukup aktif
berdiskusi dalam grup diskusi DIP di Facebook. Walaupun frekuensi keaktifannya
tidak stabil, yaitu terkadang diskusinya “rame” terkadang “sepi”. Menurut saya
hal tersebut bukan tanpa alasan, melainkan dikarenakan (1) terbatasnya jaringan
internet untuk mengakses Facebook sebagai media dalam pembelajaran mata kuliah
DIP; (2) Availability Mahasiswa; (3)
kurangnya daya inisiatif mahasiswa.
Dari alasan yang pertama, jelas bahwa sarana dan prasarana
untuk mengakses media pembelajaran ini belum merata pada setiap mahasiswa. Beberapa
mahasiswa pun harus pergi ke warung internet (warnet) terlebih dahulu. Menanggapi
masalah ini, solusi yang dapat dilakukan adalah dengan cara seperti membawa laptop ke lingkungan
kampus untuk memanfaatkan jaringan wifi yang tersedia.
Namun, muncul
kembali masalah yang kedua yaitu availability
mahasiswa. Yang dimaksud availability di sini adalah tersedianya waktu mahasiswa
yang cukup untuk mengikuti diskusi grup Facebook DIP secara real-time. Dikarenakan jadwal kegiatan
mahasiswa yang sebagian besar mempunyai kegiatan lain di luar kegiatan akademis,
di antaranya seperti kerja paruh waktu; organisasi; dan lain-lain; maka tidak
memungkinkan mahasiswa untuk mengikuti diskusi secara tepat waktu.
Selanjutnya,
terdapat faktor yang ketiga yaitu mengenai daya inisiatif mahasiswa. Mahasiswa
cenderung menunggu temannya terlebih dahulu untuk melihat jawaban, yang
dimaksudkan untuk mendapat inspirasi terlebih dahulu dalam menjawab, namun
bukan dengan niat untuk mencontoh atau plagiarism. Kurangnya daya inisiatif
mahasiswa tersebut dalam menjawab pertanyaan diskusi yang diajukan dosen, akan
menghambat berjalannya diskusi.
Terlepas dari
berbagai faktor penghambat yang sudah diuraikan di atas, bagaimana pun grup
diskusi Facebook DIP tetap harus dilanjutkan. Saran yang dapat penulis berikan
terkait dengan faktor-faktor penghambat di atas adalah sebaiknya pertanyaan
yang diajukan diberi jadwal atau dibatasi jumlahnya. Karena terkadang dosen pengampu
memberikan pertanyaan diskusi secara tidak tentu jumlahnya dalam jangka waktu
yang terlalu berdekatan. Ada baiknya satu bahasan focus untuk didiskusikan
bersama hingga tercapainya sebuah kesimpulan sebelum akhirnya diturunkan
pertanyaan baru.
BAB IV
KESIMPULAN
Aktivitas
diskusi dalam grup Facebook DIP cukup “hidup” dan dapat dinilai membantu
mahasiswa untuk menyampaikan gagasan atau aspirasi menurut perspektif individu
yang juga diperkaya oleh referensi bacaan lain yang sudah dibagikan oleh
mahasiswa lain dalam laman Facebook.
Efektivitas grup ini pun dapat dikategorikan sudah cukup baik atau sudah
efektif.
DAFTAR PUSTAKA
Rogers, Everett
M., 2003. Diffusion of Innovation. New
York: Free Press
http://renataliaa.wordpress.com/2011/05/24/penggunaan-facebook-sebagai-media-pembelajaran/






