Salah satu event terbesar yang mempertemukan pemuda pemudi dari seluruh Indonesia kembali digelar tahun ini! Pertemuan? Yes. Tapi bukan pertemuan seperti apa yang anak SMP pikirkan dimana pertemuan adalah sebuah acara mengasyikkan yang di dalamnya terdapat rangkaian kegiatan: cewek cowok bertemu, berkenalan, nyanyi dan joged bareng saat Pee Wee Gaskin on stage, tukeran nomer handphone, pulang, smsan, telpon-telponan, jadian, marahan, putussss. Yak! Melenceng jauh dari apa yang sebenernya akan gue ceritakan disini. Biar jelas, gue kasih tau apa itu Indonesian Youth Conference yang sebenernya. Indonesian Youth Conference atau biasa disingkat IYC adalah gelaran akbar tahunan yang mewadahi sharing aspirasi di antara pemuda Indonesia. Nah selanjutnya ini adalah definisi resmi yang gue ambil dari website mereka. Indonesian Youth Conference (IYC) adalah sebuah kegiatan yang direncanakan dan diselenggarakan oleh pemuda, yang bertujuan untuk mengumpulkan pemuda Indonesia untuk berbagi masalah dan ide, meningkatkan kepedulian mereka terhadap isu-isu terkini serta meyakinkan masyarakat bahwa suara pemuda harus didengar dan ditanggapi dengan serius. (
http://indonesianyouthconference.org/aboutus/the-story/)
IYC diprakarsai oleh Alanda Kariza dan sudah sukses digelar tahun 2010 dalam bentuk forum dan festival. Khusus untuk tahun 2011 ini IYC hadir dalam bentuk festival, namun forumnya akan kembali diadakan pada 2012 mendatang.
Nah sekarang udah jelas kan IYC itu apa. IYC 2011 berlangsung pada hari Sabtu tanggal 16 Juli 2011 di Upper Room, Wisma Nusantara. Tiket yang dijual secara online pun sudah habis terjual sejak Mei lalu. Karena satu dan dua hal gue telat beli tiket early bird dan akhirnya pasrah dengan harus membeli tiket C on the spot yang sungguh merepotkan. Fortunately, gue akhirnya bisa beli tiket A juga seharga early bird karena ditawarin kakak panitianya on the spot. YES! Itu pasti tiket early bird yang masih sisa. Haha asik deh jadi dapet goodie bag berisi berbagai majalah dari media partner dan kupon Big Gulp dari Seven Eleven, lunch, sertifikat, surprise session, dan malam kebudayaan. Untuk sesi seminarnya gue milih tema Media, Kreativitas, dan Sudut Pembaharuan. Sebenernya sebelum sesi seminar yang dimulai jam 13.00, ada sesi pembukaan yang dipimpin Program Director IYC dan seminar pembuka tentang Pendidikan sebagai warming up session dengan pembicaranya yaitu Najeela Shihab dan Anies Baswedan. Sayang gue gak bisa ikut seminar itu karena booth tiket on the spot baru dibuka jam 12 sedangkan acara dimulai jam 10.25 :(
Pembicara dalam sesi Media adalah jurnalis senior Putra Nababan dan Najwa Shihab. Mbak Nana sebagai pembicara awal menjelaskan dan akhirnya membuka mata kami tentang pentingnya Media Literasi. Sebagai pemuda yang kritis dan pastinya pikiran kita tidak mau dengan mudah disetir oleh berbagai kepentingan beberapa pihak, budaya Media Literasi perlu ditanamkan sejak dini. Bukan hanya saat sudah remaja tapi sejak dari bangku SD adalah lebih baik. Karena survey membuktikan bahwa keseluruhan jumlah masyarakat Indonesia dominan memperoleh informasi atau berita terkini lewat televisi. Sedangkan masyarakat Indonesia yang berusia remaja dominan mendapat informasi/berita lewat internet. Sedikit sekali persentasenya yang memperoleh informasi lewat media koran, majalah, dan radio. Padahal seperti yang dikatakan Bang Putra, "Internet itu menyajikan kecepatan. Fast, fast! Kalau ingin mendapat perspektif maka bacalah koran". Ya itu memang benar. Internet cenderung menghadirkan kecepatan update berita bukan keaktualan berita. Sebagai warga kota Metropolitan yang dinamis, hal ini tidak salah. Namun perlu dibarengi dengan rutinitas membaca koran agar tetap mendapat sudut pandang dalam suatu bahasan masalah. Dan televisi pun seperti yang sudah kita ketahui beralih fungsi seperti layaknya industri. Tak heran jika sekarang kita lihat di beberapa stasiun televisi ada yang pemberitaannya 'lebay' atau kadang menyudutkan suatu pihak. Itu semua adalah fenomena mata rantai yang sulit diputuskan lingkarannya. Lalu bagaimana? Sebagai pemuda pemudi Indonesia yang kritis dan oenyoe, kita harus membentengi diri dari segala intervensi negatif media yang kerap kali memapar kita. Hal ini lah yang disebut Media Literasi. Media Literasi adalah kemampuan untuk menganalisis dan mengevaluasi pesan media yang menerpanya, baik yang bersifat informatif maupun yang menghibur. Jadi informasi apapun yang kita terima jangan ditelan mentah-mentah. Analisa dan cari tau lebih dulu lagi secara mendalam mengenai informasi atau isu tersebut. Jangan sampai kita termakan kabar burung atau berita karangan yang sengaja dilempar ke publik untuk menganggu stabilitas NKRI.

Setelah seminar Media yang cukup membuka mata dan pikiran gue, lanjut ke sesi seminar 'becandaan'. Haha gimana gak becandaan orang pembicaranya Joko Anwar dan Mirwan Adnan. Yak pas sekali buat mendinginkan otak kami yang mulai ngepul saat berdiskusi di sesi seminar Media tadi. Suasana seminar Kreativitas lebih cair dan dihujani banyak canda tawa. Tema seminar kali ini adalah Kreatif dalam Menyampaikan Aspirasi. Awalnya gue sempet bingung kenapa bukan Yoris Sebastian sebagai pembicaranya. Akhirnya gue mention-lah si Creative Junkie ini di twitter. Dan dia pun membalasnya, bilang kalo sebenarnya tahun lalu dia yang menjadi pembicara sesi Kreativitas ini dan gantian lah sama yang lain, begitu katanya. Sungguh memang orang yang baik :) Tapi ada yang gak baik, yaitu Helmi Tanthawi, partner in crime gue sedari SMA yang juga satu visi dengan gue. Dia iri dan shock karena tweet gue dibales seorang Yoris Sebastian. Dia pun segera melakukan hal yang gue lakukan tadi. Me-mention dan menanyakan kenapa Yoris gak jadi pembicara sesi ini yang padahal dia sudah mengetahui jawabannya tadi. Dan dia pun kegirangan saat tweetnya juga dibales Yoris dan dia sok-sokan nanya-nanya terus. Dia pun memamerkan tweet-tweetnya ke gue. Sungguh childish dan tidak patut ditiru…
Oke lanjut ke ulasan mengenai seminar Kreativitas ini. Bang Joko memulai presentasinya dengan gaya santai dan bahasa yang santai pula. Tak lupa jokes juga dilemparkan ke audience secara alami dan tanpa dibuat-buat. Uh! Sungguh gue sangat mengagumi bang Joko. Dari cara ngomong bahkan jokes dia, gue tau isi kepalanya itu berbobot. Dia juga seorang yang idealis. Konsep film yang digarapnya juga pasti punya ciri khas dan ada sentuhan kreativitas tingkat dewa. Janji Joni adalah salah satu karya terbaiknya yang jadi favorit gue. Benang merah dari topik ini: Kreativitas dalam Menyampaikan Aspirasi adalah penyaluran aspirasi dapat dilakukan dengan jalan-jalan yang kreatif salah satunya dalam format film. Hemmm… jadi kangen bikin proyek film semasa SMA dulu bersama teman-teman IPA 1 :D
Pembicara kedua adalah Mirwan Adnan. Oke. Hem. Skip.

Jam 16.10 sesi seminar ketiga dimulai, Sudut Pembaharuan. Pembicaranya adalah Ibu Tri Mumpuni, insinyur pertanian IPB yang mendedikasikan dirinya untuk menerangi 60 dusun terpencil di Indonesia dengan membangun Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH). 5 menit pertama, fine. 5 menit kemudian, sudah mulai buyar konsentrasinya apalagi pas ketemu slide itung-itungan angka yang ngebahas listrik blablabla. 30 menit, hoaaamm. Gue tengok samping kiri, dan partner gue si kebo Helmi, tidur! Gue sikutlah dia. Pembicara kedua, Bapak Budi Soehardi pendiri Roslin Orphanage di NTT. Gue udah pernah tau tentang beliau saat baca suatu artikel di Kompas. Orang hebat dan… sangat berhati mulia-lah intinya beliau ini. Beliau ngejelasin tentang awal berdirinya Roslin Orpahanage yang tidak pernah direncanakan itu. Dan… yang mengejutkan gue adalah, di saat bercerita pada kami pun ia sempat terdiam beberapa saat dan terbata ngomongnya. Ia menangis! Walaupun gak mengerung-gerung lebay sih nangisnya tapi ia seperti merasakan kenangan pahit lagi saat flashback cerita ke kami. Gue juga sempat terharu tapi gak bisa keluar air mata. Gue cukup 'merinding bulu romaku' saja saat diperlihatkan slide yang berisi foto-foto anak asuh di Roslin Orphanage sana dan kegiatan sehari-hari mereka. Ada anak yang sengaja dibuang orang tuanya dan sampai di Panti Asuhan Roslin dalam keadaan menyedihkan: malnutrisi atau kita biasa sebut kurang gizi/gizi buruk yang tandanya terlihat seperti tubuh kurus dimana hanya seperti tulang berbalut kulit namun dengan perut buncit dan wajah lesu. Sedih liatnya. Tapi gak melulu sedih, cerita prestasi juga ada. Anak asuh terbesar mereka saat ini sedang kuliah di jurusan kedokteran salah satu universitas negeri di Surabaya (kalo gak salah) lewat jalur seleksi super ketat. Wow! Hebat sungguh! Kalo mau tau tentang cerita Pak Budi bersama istrinya Bu Peggy dan anak-anaknya membangun Roslin Orphanage silahkan googling sendiri karena maaf gue gak sempet memberikan tautannya.
Now, it's time to surprise session! Hooray! Siapa sih yang bakal jadi pembicara di surprise session kali ini? Gak ada satupun audience yang tau. Kami hanya bisa berharap-harap cemas. Gue pun sempat beramsumsi bahwa guest speakernya bakalan Yoris Sebastian. Eaaaa terus aja Yoris semuanya. Hem.
Jerengjeeeeng… Dan pembicaranya adalaaaah… Desy Anwar dan Jay Subiaktoooooo!! Yeay! Tante Desy Anwar menjadi salah satu speaker favorit di gelaran IYC tahun lalu dan banyak yang nge-request supaya Tante Desy diundang lagi. Kalo Om Jay adalah karena ia salah satu role model lokal yang sungguh menginspirasi karena kecintaannya pada budaya Indonesia. Nah, Tante Desy memulai speakingnya dengan santai dan menyapa kami dengan hangat. Ia memberi kami 'wejangan' mengenai banyak hal. Mulai dari tips mencapai sukses yang akan gue tulis poin-poinnya di postingan selanjutnya sampai 3 orang yang menginspirasinya. Yaitu Dalai Lama, Richard Branson si empunya Virgin Airways, dan Kitaro. Ketiga tokoh tersebut pernah diwawancarai secara eksklusif oleh Tante Desy. Satu hal yang gue pelajari dari Tante Desy, dia senang mengenal dan bergaul dengan banyak orang. Dia juga senang berdiskusi tentang hal apapun bersama orang lain. Dan dia juga selalu melihat sisi positif seseorang, mempelajari proses hidupnya, dan mengambil hikmah dari setiap masalah atau kejadian yang menimpa tokoh tersebut sebagai bahan pembelajaran untuk dirinya yang selanjutnya akan ia sebarkan ke orang lain. And those are what I have done, on-going process actually. I love to meet new people, discuss with them. And I adore to learn about their personality which can rich my knowledge and also improve my personality to be better. Nah, abis denger 'wejangan' dari Tante Desy itu, jadi makin semangat deh gue buat mengfungsikan segentongasa ini menjadi seperti tujuan awalnya yaitu berisi kisah-kisah inspiratif para tokoh yang sukses duluan. Inget ya, tokoh yang sukses duluan, berarti ada kemungkinan gue, lo, atau orang lain di luar sana yang kemudian akan menyusul kesuksessannya dan gue posting cerita sukses lo itu di segentongasa ini suatu saat. Be prepared ya guys! :D
Lanjut ke Om Jay, gak banyak embel-embel apapun, ia langsung menyuruh operator buat nanyangin film-film pendeknya yang suka dijadiin iklan rokok itu loooh. Ciri khas dari tiap film-nya Om Jay adalah unsur kebudayaan Indonesia dan wanita asli Indonesia sebagai ikon dalam filmnya. Dua unsur yang menurut gue kuat banget karakternya. Asli merinding banget pas diputerin video yang berdurasi sekitar 3-5 menit ini. Ada beberapa video yang ia putar. Dan kesemuanya membius kami! Apalagi dengan lampu ruangan yang diredupkan juga sound yang menggelegar. Tepuk tangan riuh penonton mengakhiri penanyangan video-videonya Om Jay. After taste: Your Nasionalism has been recharged!
Kalau sebelumnya Yoris Sebastian, Joko Anwar dan beberapa public speaker kenamaan Tanah Air seperti Erwin Parengkuan, Sarah Sechan, dan Becky Tumewu sudah lebih dulu masuk dalam role-model-list gue, selanjutnya gue akan memasukkan nama Desy Anwar dan pastinya Jay Subiakto. Di saat gue hanyut sendiri dalam lamunan role-model-list gue itu, tiba-tiba kuping gue menangkap suatu kalimat dahsyat yang berasal dari pembicara, "… and the next role model is YOU!"
Deg! Speechless… Bagai tamparan. Sungguh! Di momen yang sangat tepat Om Jay berhasil menyulut kembali semangat gue. Mengaktifkan kembali hormon adrenalin gue yang sempet naik turun terus selama ini. And yeah... You definitely rocks Om Jay! \m/
Acara selanjutnya adalah Malam Kebudayaan yang menampilkan Alexa, The Trees and The Wild, Saratus Persen dan fashion show yang dipromotori oleh clothing line, Mosseux. Berhubung malam sudah menjelang, sorry maksudnya sudah mulai larut karena udah hampir jam setengah 9, gue dan si Helmi pun bergegas keluar Upper Room buat pulang tanpa sempat liat performance Malam Kebudayaan satu pun, tapi sempet ditahan sama beberapa panitia yang jaga pintu supaya nonton video mapping panitia IYC dulu. Oke kita liat videonya dulu. Walaupun gak sempet liat performance Alexa dkk, tapi gue tetep punya foto acaranya kok :D


Setelah selesai buru-buru deh meluncur ke Stasiun Sudirman dan naik Commuter Line terakhir ke Bogor. Hhhhh selesai lah rangkaian acara yang berlangsung dari pagi tadi. Kalo si kebo Helmi matanya udah sayup-sayup selama di Commuter Line, gue gak sama sekali. Ya, dampak charged dari orang-orang hebat itu yang kembali mengaktifkan semua saraf kreativitas dan semangat gue. Tulisan dan blog ini pun gak akan terupdate kalo gak karena semangat dan mood gue naik lagi setelah beberapa bulan sempet drop.
Yak, keseluruhan acara IYC 2011 dapat dikatakan sukses dan meriah. Selanjutnya apakah tahun depan gue akan ikut menjadi peserta lagi atau akan kah menjadi panitia? Haha belum tau sih. Yang pasti, siapkan dirimu untuk Indonesian Youth Conference 2012! Karena Masa Depan Dimulai Dari Sekarang!
Picture from: http://limitdoesntexist.wordpress.com (sorry forgot to bring camera, jadi minta deh :p)